This is My Top 10 Movies of 2009

Penilaian atas sebuah film sangat kental dengan unsur subyektivitas dari penulisnya, seorang penikmat film yang memiliki latar belakang, preferensi dan pengalaman yang berbeda. Atas dasar preferensi tersebutlah, gw memberanikan diri menyusun 10 film paling brilian, paling baik dan tentu saja paling menghibur tahun ini.

 1o. The Hurt Locker

Perlu dua kali menonton buat gw untuk bisa memahami betapa unik dan menariknya film arahan Kathryn Bigelow ini, realistis sekaligus puitis. Tidak ada antagonis, tidak ada action yang menggelegar. Nuansa intense dan suspense secara nyata dibentuk rapi dari awal hingga akhir. Banyak unsur-unsur yang sangat emosional di film ini yang membuka mata gw, The Hurt Locker adalah film yang cemerlang karena memiliki story telling yang baik.

9. District 9

Neill Blomkamp membawa District 9 sebagai film sci-fi yang kelam sekaligus sangat realistis. Keseluruhan film menjadi sebuah film yang tidak hanya menghibur tapi juga berani mengambil risiko pada plot dan cerita yang berbeda. Seandainya dikemudian hari, semua film maker Hollywood memperlakukan USD 30 juta seperti layaknya Blomkamp menerapkannya pada District 9, gw optimis kita bakal menemui film-film yang menghibur tapi tetap orisinal di masa yang akan datang.

8. Avatar

James Cameron is back. Avatar jelas adalah pemenang untuk film dengan production value paling tinggi tahun ini. James Cameron menempatkan Avatar pada generasi baru, generasi film yang diciptakannya, generasi tentang bagaimana sebuah film menggunakan teknologi pada kapasitas yang sangat maksimal.

7. Invictus

Ini adalah kisah seorang Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan, yang menggunakan tim rugby nasional yang sedang bertanding di kejuaraan dunia untuk menyatukan negaranya setelah didera bertahun-tahun oleh masalah diskriminasi. Di tangan seorang Clint Eastwood, kita seperti tidak sedang di paksa untuk menikmati sepotong steak yang digosipkan oleh teman kita kalau rasanya sangat lezat. Surprisingly, lancar bertutur dan tidak berusaha tampil berat. Ini adalah sebuah film materi Oscar yang ditopang oleh akting kuat Morgan Freeman.

6. Coraline

Coraline adalah film animasi adaptasi paling brilian tahun ini, plain and simple. Secara material, film ini punya plot yang tidak sembarang, cenderung gelap yang mungkin sedikit menakutkan untuk anak kecil tapi memukau secara keseluruhan. Cantik, menyeramkan sekaligus punya production yang rapi. Such a visual masterpiece.

5. An Education

Kisah romantis remaja perempuan cantik dan pintar berusia 16 tahun yang bermimpi hidup bahagia dengan serorang pria lebih tua adalah plot yang generik. An Education adalah contoh film yang memiliki plot biasa tapi dieksekusi dengan sangat baik. Carey Mulligan tampil bersinar, sangat menawan baik secara fisik maupun acting.

4. Inglourious Basterds

Style tetaplah ala Quentin Tarantino, tapi Inglourious Basterds adalah sebuah pencapaian Tarantino atas sebuah film tanpa bau hal-hal yang bersifat klise. Tidak sebaik Pulp Fiction, tapi scene-scene panjang dengan dialog-dialog yang penuh telah berhasil dengan cerdik membangun sebuah kerangka cerita yang suspenseful dan intense. Pesan gw buat Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS, komite penjurian Oscar) tahun ini, “Don’t you dare ignore Christoph Waltz!”

3. 500 Days of Summer

Di saat hampir semua film romantis hanya berasa ‘sweet like a candy’, 500 Days of Summer adalah film yang cantik tapi tetap berpondasi pada sesuatu hal yang berasa real. Saat film usai dan credit title bergulir, sebagian dari kita mungkin akan berkata ‘Heyy, ini kisah gw banget yaa’.

2. Departures

Film buatan tahun 2008 dan mulai terkenal sejak menjadi pemenang Best Foreign Language di Oscar 2009, tidak hanya memiliki scene-scene dan scoring yang sangat menyentuh, tapi sekaligus membuktikan alangkah cakapnya Yojiro Takita (sutradara Okuribito) dalam menyusun sebuah cerita yang universal tanpa kehilangan aroma dan ciri khas negara pembuatnya.

1. Up

Up adalah sebuah pembuktian bahwa Pixar adalah sebuah nama untuk setiap film animasi yang sulit untuk menjadi film yang biasa. Dramatisasi kisah romantis Carl Fredricksen dan Ellie adalah bagian paling cerdas dan paling menyentuh tahun ini. Singkat cerita, kita tidak memerlukan waktu 30 menit, 1 jam maupun 1,5 jam untuk jatuh cinta dengan film ini. Up adalah sebuah pencapaian Pixar setelah Finding Nemo atau Wall-E yang juga mengharu-biru.

Leave a comment

Filed under Others

Sherlock Holmes – This is Ritchie’s

Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) dan sidekicknya, Dr. Watson (Jude Law) terlibat dalam perseteruan dengan the black-magic guy, Lord Blackwood. Sherlock Holmes, karakter detektif imajinasi Sir Arthur Conan Doyle di akhir abad 19, di tangan Guy Ritchie menjelma menjadi Sherlock Holmes yang lebih hardcore dan sarkastik. Style Guy Ritchie menempatkan Sherlock Holmes menjadi sebuah film yang lebih acceptable oleh penonton masa kini.

Set dan scoring adalah dua hal yang sangat menonjol di film ini, the Hans Zimmer’s score was wonderful. Treatment Ritchie pada saat menjelaskan Holmes’ mindset adalah hal yang sangat fresh untuk dikonsumsi oleh penonton. Though it was good but I felt that it was a little bit too long. Di awal dan pertengahan, it did drag a bit though, kerasa kalau pacing dan flownya tidak terlalu rapi.

Karakterisasi keseluruhan, terutama Holmes dan Watson, kerasa lebih light. Gaya detektif Holmes lebih masuk ketika dia mulai menjelaskan isi kepalanya. SH adalah ibarat show tunggal Robert Downey Jr. meskipun Jude Law dan Rachel McAdams tidaklah tampil memalukan. Gw kasih kredit untuk chemistry antara Watson dan Holmes karena chemistry keduanya adalah highlight yang penting di film ini. Khusus untuk Adams, she is gorgeous, tapi gw ngerasa bagian Irene Adler dipresentasikan dengan buruk, bukan disebabkan oleh kegagalan Adams dalam berakting tapi lebih kepada pengolahan script untuk karakter Adler yang tidak tajam.  

Overall, this movie was entertaining but nothing more or less…bukan tipe Sherlock Holmes yang sudah kita kenal…..7.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Avatar : Sky is the Limit for Mr. Cameron

Avatar adalah kisah Jake Sully, seorang marinir lumpuh, dalam sebuah misi infiltrasi Na’ vi, koloni yang di hidup di planet Pandora. Saat Jake belajar untuk memahami menjadi seorang Na’vi, perasaannya akan menempatkan dia dan orang-orang sekelilingnya dalam keadaan bahaya.

About the movie…where to begin? Well…Avatar is a ‘must see’ movie yg nge-set benchmark teknologi yang digunakan oleh sebuah film ke standar yang lebih tinggi lagi. Mungkin untuk sebagian orang, 30-40 menit awal membutuhkan sedikit kesabaran…tapi setelah itu, well…sky is the limit for James Cameron. His attention to detail is incredible! Durasi yang lumayan panjang hampir tidak menjadi masalah karena pacenya dipertahankan konsisten dan excitement-nya berasa terus sampai klimaks, sampai akhir.

Secara visual, gw bisa bilang mungkin ini film dgn CGI paling bersih…production value and visual effects were groundbreaking…istilah gw ‘KERASA MAHALNYA’! Editingnya juga cakep banget, peralihan scene-scenenya mulus. Action sequences? Jangan ditanya…JUARA KELAS!! Performance of casts are good, and I love watching Sigourney Weaver…dia tampil menyakinkan dan ngeblend sm karakternya.

Apa film ini begitu sempurna? Hmm…mungkin kritikus wannabe bakal komplain soal plot…to be honest, it’s lack of original story. Secara basic, Avatar mungkin punya konsep yg generik…let’s say, it’s kinda Pocahontas…or a little bit Dances with Wolves…or I felt the Last Samurai…but I was not bothered at all…percaya sama gw, it won’t ruin your mind blowing experience!

Overall, apakah Avatar adalah revolusi dibidang cinema? Ummm…no…but still, Avatar is such a movie experience to be remembered…..9.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Sepet : Bukan Sekedar Kisah Romantis

  

Sepet has a simple story, premisnya sederhana sekali. Orked, seorang perempuan muslim Malay dari keluarga berada, bertemu dengan Jason, an average Chinnese guy, penjual VCD. It’s all about one boy and one girl, keduanya punya background yang sangat berbeda tapi keduanya jatuh cinta. Formula seperti ini sangat umum, it doesn’t sound like something that original. Kekuatan Sepet, mungkin satu dari sedikit film yang ada, walaupun di topang dengan plot sederhana tapi dieksekusi dengan sangat kuat oleh Alm. Yasmin Ahmad.

Chemistry antara Orked – Jason terlihat believable. Diluar itu, seluruh karakter di film ini memiliki kedalaman sendiri, masing-masing memiliki daya tarik sendiri menjadi sebuah ensamble yang indah membentuk film ini and that’s why It will make you feel like you care for these characters. Di antara dialog dan scene yang terlihat dan terdengar jujur, Sepet tidak hanya menawarkan kisah cinta yang romantis yang membuat kita tertawa dan menangis tapi juga potret realitas masyarakat yang ada. Banyak hal disampaikan Yasmin Ahmad baik secara kocak waktu orang tua Orked berdialog atau sekedar sindiran pembantu Orked bagaimana Jason mendapatkan 7 nilai A tapi Orkedlah yang mendapatkan beasiswa walaupun hanya memiliki 5 nilai A.

Overall, Sepet adalah kisah romantis yang klasik dengan sentuhan realitas modern dalam kehidupan dan interpersonal relationships. Contoh film yang bagus walaupun tanpa shot-shot yang artistik dan dialog-dialog yang ribet….8.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Coco Before Channel (Coco Avant Channel) : Tatou shines but…

Coco Before Channel (Coco Avant Channel) adalah film berdasarkan buku karangan Edmonde Charles-Roux, biografi Gabrielle “Coco” Channel yang berdasarkan timeline sebelum Coco merintis karirnya. Secara garis besar, Coco Before Channel lebih fokus kepada kisah percintaan Coco dimulai saat dia berkenalan dengan Etienne Balsan, seorang playboy kaya-raya yang memperlakukan Coco sebagai layaknya simpanan saja. Jujur, ekpektasi gw yang berharap pendekatan film ini kepada awal terbentuknya brand Channel menjadi luntur, the film is more about the love…maybe a strange romantic picture.

Setengah bagian awal dari film sangat menjanjikan karena nggak perlu waktu yang lama, penonton langsung connect dengan karakter Coco. Pacenya pas, alurnya terjaga. Sangat disayangkan setelah masuk karakter “Boy” dalam kehidupan Coco, filmnya keliatan mencoba keras untuk tampil romantis, tapi malah seakan kehilangan mood untuk bertutur.  Audrey Tautou tampil tetap menawan dan memberikan effort yang maksimal untuk masuk ke dalam karakternya berdasarkan materi yang ada.

Overall, the movie is ok but it didn’t have ‘woww’ factor…7/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Pintu Terlarang (the Forbidden Door) : Intense…Disturbing…Beautiful

Seorang pematung yang sukses, Gambir (Fachri Albar) mulai berantakan setelah dia mulai menerima pesan-pesan misterius dari seseorang anak kecil. Disisi lain, dia mulai curiga kalau istrinya, Talyda (Marsha Timothy) menyimpan suatu misteri yang tidak dia ketahui. Film ini berakhir pada kengerian dan bencana yang berdarah-darah menanti di ujung pencarian Gambir.

Hype yang berlebihan dibayar lunas saat pertama kali nonton filmnya. Terus terang dibanding Kala (film Joko Anwar sebelumnya), gw lebih bisa menikmati PinTer. Scriptnya lebih matang, alurnya lebih terjaga. Setting film nggak usah ditanya…mantap,keren khas Joko Anwar. Scoring sungguh mengejutkan, disatu sisi disajikan penuh kontradiktif tapi surprisingly ngeblend ke dalam alur…menguatkan perasaan intense, bikin merinding sekaligus excited. Nilai paling kuat di film ini adalah klimaks yang begitu menggetarkan, sekaligus begitu apik…scene berdarah-darah yang bakal diingat terus sampai keluar dari bioskop.

Akting rata-rata pemain lancar…mulus…sama sekali nggak ada komplain buat gw. Fachri upgrade, begitu juga Marsha, emosinya dapet…cantik sekaligus misterius. Overall, sebuah thriller yang rapi…for me, one of the best…8.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Heart-break.com : Saat Ide dan Eksekusi Sejalan

There is a boy…there is a girl…dan pertanyaan standar setiap romcom adalah ‘How are they going to end up together by the end of the movie’. Sekarang, apa jadinya bila seorang cowok (Agus, diperankan Ramon Y Tungka) yang cinta mati sama pacarnya (Nayla, diperankan Raihaanun) tapi ternyata pacarnya ini sudah pindah ke lain hati…pertanyaan yg sama ‘How are they going to end up together by the end of the movie’.

Secara konsep, HBDC punya kartu as dibanding film lokal sejenis…ide secret agent HBDC membuat premisnya terlihat menarik. Pada kenyataannya, buat gw, film ini tetap pada tracknya, porsi komedinya ada tapi nggak lebay dan porsi dramanya tetap punya hati.

Eksekusi HBDC cukup konsisten, sinematografinya efektif dan scoringnya pas. Awal-awal kerasa drama dengan unsur komedi yang dominan…masuk ditengah-tengah mungkin sedikit…ya sedikit ketarik-tarik,lambat…tapi nggak sampe terlalu bermasalah karena itu kayak jadi jembatan ke tone yang lebih dramatik pas masuk bagian klimaks.

The acting was great. Good Casting. Ramon is a solid enough lead…dapet karakter Agusnya, tokoh cowok yg biasa aja, just an ordinary guy, bukan idola tapi kental sifat lugunya. Raihaanun bersinar, progress dibanding film sebelumnya, klop dari sisi ngebangun karakter serta charming secara fisik alias enak jatuhnya dilayar. Omesh tampil sangat fresh,kocak dan kena joke-jokenya…surprise krn ini debut akting pertamanya di film. Richa and Sophie Navita also shine, khusus Richa, gw suka scene dialog emosional Raya-Nayla pas klimaks.

Overall, HBDC was different than the average Indo romantic comedy. Tetap ringan, entertaining…It is so uplifting and a little bit sad, but of course happy all at once. What a pleasant movie to see….8/10

Leave a comment

Filed under Movie Review