Category Archives: Movie Review

Edge of Darkness – Officer Involved…Yeah Right


No spoiler for sure, bisa di lihat pula di trailernya, Edge of Darkness bermula pada Emma Craven yang ditembak mati didepan ayahnya, Tom Craven (Mel Gibson) tanpa sebab yang jelas. Kisah selanjutnya kejar-kejaran, sedikit action sana-sini, intinya adalah aksi pembalasan dendam seorang ayah yang celakanya buat sang bandit adalah seorang veteran polisi.

Mel is back…hmm after 7 years! Sayangnya mungkin disini bukanlah penampilan terbaiknya setelah sekian lama. Di tangan seorang Martin Campbell, performancenya cukup menyakinkan sebagai ayah yang stress atas kehilangan putrinya, too bad it is not outstanding…biasa aja. Agak sedikit menyesalkan kurangnya screen time untuk menangkap kesedihan Craver setelah kematian putrinya, membuat gw merasa filmnya kehilangan hampir separuh soul yang seharusnya. Yaa yaa…walaupun ada bagian di film yang “berusaha” untuk menjelaskan hal ini. 

Edge of Darkness has hit and miss moments. Ray Winstone adalah scene stealer, walaupun akhirnya eksekusi karakter di bagian ending agak-agak berasa ‘hmm…whatt?!’. Sedikit-sedikit mengingatkan gw pada History of Violence atau Death Sentence. Jangan salah, this movie could not be compared to Taken. Taken lebih straight-forward, lebih popcorn, lebih menghibur ketimbang Edge of Darkness. Sebenarnya premis berdasarkan BBC series ini tidak buruk, masalahnya terletak pada script William Monohan (mendapat oscar atas script yang ‘tidak terlalu bagus’ lewat the Departed, compared to its original, Infernal Affairs…yeahh). It’s so predictable. Setengah bagian terakhir berasa tersendat-sendat dan membosankan. Saat filmnya mencoba untuk kelihatan lebih smart, lebih complicated, it falls flat. Unfortunately, sometimes thriller needs a twist, and Edge of Darkness offers nothing. No suprise at all…..7/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Nine – Page One Page Zero

 

Dari seorang Rob Marshall (sutradara Chicago, Memoirs of a Geisha) lahirlah drama musikal, dengan design dan sinematografi cantik, yang membawa Daniel Day Lewis, Nicole Kidman, Kate Hudson, Marion Cotillard, Penelope Cruz, Judi Dench, Fergie dan Sophia Loren dalam satu frame, ohh well, lebih tepatnya Day Lewis dengan salah satu dari aktris bergantian. Nine diadaptasi dari pemenang Tony Award berjudul sama, “Nine” sekaligus remake dari film Italia arahan Federico Fellini “8 1/2”.  

Roma, 1965, Guido Contini (Daniel Day Lewis) adalah sutradara terkenal dalam industri sinema Italia, yang belakangan mulai kehilangan “keberuntungannya” karena telah berturut-turut menghasilkan 2 karya terakhirnya yang gagal. Atas dasar reputasinya, Guido masih diberikan kepercayaan untuk memproduksi sebuah film besar yang sayangnya tidak ada satupun orang yang tahu isi film itu, tidak produser, tidak artis, bahkan Guido sendiri. Nine adalah kisah pelarian Guido untuk menemukan talentanya kembali, melalui wanita-wanita disekelilingnya termasuk istrinya Louisa (Cotillard), simpanannya Carla (Cruz), seorang wartawan fashionista yang mencari ketenaran Stephanie (Hudson), bintang utama filmnya Claudia (Kidman) dan wanita dari kenangan masa kecilnya Saragina (Fergie).

Sulit. Terus terang tidaklah mudah memberikan penilaian kepada Nine. Seluruh cast keliatan sekali effortnya masing-masing, di luar Fergie, gw lumayan surprised melihat Cruz, Kidman, Hudson atau Cottilard bernyanyi dan menari. They sing and dance beautifully, walaupun tampil dalam screen time yang tidak signifikan. A solid performance from Daniel Day Lewis, not spectacular, tapi cukup menyakinkan. Penelope Cruz tampil sangat menarik, she delivers a very sexy…and provocative solo. Kate Hudson mencuri perhatian dalam “Cinema Italiano”, sangat energetic, catchy, well, it’s eye candy for sure. Nicole Kidman classy, tidak mengherankan, walaupun aksen yang berubah cukup mengganggu, tidak buruk tapi cukup mengecewakan. Di luar semua itu, tampil paling cemerlang adalah Marion Cotillard, she stands out among others by giving heartfelt and emotional performance. 

Di luar cast yang tampil menawan, well each of the casts is just a star. Nine hampir tidak memberikan kesempatan pada gw untuk connect dengan karakter-karakter yang ada, untuk bisa menikmati filmnya secara utuh. One of my biggest criticisms of the film is the plot. Ibarat menatap sebuah pemandangan yang indah dari sebuah jendela, cantik tapi lama kelamaan kelihatan membosankan, flownya tidak mengalir. Pretty boring. Kadang gw merasa kalo filmnya terlalu berusaha keras untuk tampil secantik, stylish dan se-art mungkin.

Overall, Nine is visually stunning and truly one of the sexiest movies I have ever seen, but the script could have been better…..7.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Did You Hear About The Morgans – An Epic Fail Romcom

Meryl (Sarah Jessica Parker) dan Paul Morgan (Hugh Grant) adalah pasangan ‘suami-istri’ yang sukses dalam karir tapi bermasalah dengan pernikahan mereka. Disaat Paul berusaha memperbaiki hubungannya dengan Meryl, tanpa di sengaja mereka menjadi saksi atas pembunuhan seorang gembong senjata. Dari kota besar yang serba gemerlap, pihak kepolisian harus menyertakan mereka pada program pelindungan saksi, mengasingkan mereka ke sebuah kota kecil, Wyoming. Di kota kecil ini, Meryl dan Paul berusaha untuk ‘bertahan hidup’ sekaligus bonus memperbaiki hubungan mereka.

Ini adalah film tentang pentingnya komunikasi dan memaafkan. Jangan salah, Did You Hear About the Morgans is not thriller movie, genrenya masuk komedi romantis, romcom. Premis yang sebenarnya cukup menarik, walaupun tidak original, dengan dukungan cast yang menjanjikan, too bad I wish they had a better script. Oh-em-ji, scriptnya buruk…sangat buruk. Joke-joke Morgans berasa melempem, chemistry SJP dan Hugh Grantpun kerasa ‘mati’. SJP tetaplah SJP, Hugh Grant tetaplah Hugh Grant, berasa nonton mereka dalam karakter-karakter di film sebelumnya, intonasi dan akting yang serupa dalam setting yang berbeda. Boring and predictable.  

Overall, despite a couple of funny moments, Morgans does not deserve to be seen in theaters, plain and simple….4/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Hari Untuk Amanda – Sebuah Pilihan Antara Apa Yang Kita Mau Atau Apa Yang Kita Butuhkan

“Selama ini aku selalu nyoba jadi orang yang kamu mau, tapi itu kayaknya nggak pernah cukup”

Sepuluh hari lagi Amanda (Fanny Fabriana) dan Dodi (Reza Rahardian) akan menikah. Di tengah persiapan menuju hari-H, di tengah kepusingan Amanda mempersiapkan segalanya, sementara Dodi sibuk dengan pekerjaannya, hadir Hari (Oka Antara), mantan pacar Amanda. Merasa mulai terganggu oleh “ulah-ulah” Hari, akhirnya Amanda memaksa mantan pacarnya ini untuk menemani dirinya selama satu hari untuk mengantarkan undangan pernikahan, tujuannya adalah untuk menyadarkan bahwa pernikahan ini sangat penting bagi Amanda.

Hari Untuk Amanda adalah kisah satu hari tentang sebuah pilihan, tentang sebuah komitmen. Surprise. Surprise. Film  ini kerasa sangat real, dewasa dan tidak klise seperti kebanyakan drama romantis Indonesia yang lain. Bottom line-nya, It was a very good romantic drama, eksekusi yang rapi dan plot yang flownya lancar bertutur. Di luar ritme film yang sedikit berasa turun saat menjelang klimaks, saat Amanda mulai luluh dan berbunga-bunga dengan sikap Hari, film ini memiliki keistimewaan yaitu meletakkan hal-hal yang sangat sederhana namun dengan banyak emosi yang bermain di setiap scenenya sehingga menempatkannya sebagai film dengan plot yang cukup original. Angga Dwimas Sasangko, the director, menempatkan scene-scene dengan topangan dialog-dialog komedi, kadang romantis dan menyentuh bercampur-aduk tiap menitnya, sweet and entertaining, tapi nggak cemen.

The acting is wonderful, especially from the two leads. Duo Fanny – Oka punya chemistry yang cukup kuat,  convincing and genuine. Dalam satu hari perjalanan Amanda – Hari, kita diajak tertawa oleh tingkah Hari yang easy-going, agak gombal dan nekat, berbanding terbalik dengan Amanda yang cenderung emosional. Sampai saat kita di bawa ke penghujung cerita, tidaklah terlalu penting apakah Amanda akan memilih Hari atau kembali kepada Dodi, pilihan antara apa yang dia mau atau apa yang dia butuhkan. Hal yang lebih penting adalah Hari Untuk Amanda punya unsur-unsur yang menjadikan sebuah film enak untuk ditonton, bahkan mungkin juga berhasil menjadi sebuah film yang personal ceritanya untuk sebagian penonton.

Overall, Hari Untuk Amanda is a thoughtful film about love. An impressive film that shouldn’t be missed……8/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Rumah Dara (Aka Macabre) – Slasher yang Kick-Ass Buatan Anak Negeri

Release Date : January 22, 2010

Rumah Dara adalah kisah Adjie dan Astrid, pasangan suami-istri muda, bersama dengan Ladya, adik Adjie, serta 3 orang teman baiknya, yaitu Eko, Jimmy dan Alam, dalam perjalanan dari Bandung menuju Airport untuk mengantar Adjie dan Astrid yang akan menetap di Australia. Perjalanan mereka terhenti ketika mereka memberikan tumpangan kepada seorang perempuan asing, Maya, yang akan membawa mereka ke rumahnya dan bertemu dengan ibu Maya, Dara dan saudara laki-lakinya, Adam. Keputusan mereka memberikan tumpangan malam ini harus mereka sesali karena setelahnya mereka harus berjuang untuk dapat tetap hidup dan keluar dari rumah itu.

Macabre buat gw adalah film yg sangat linear, tidak ribet, atau intinya straight to the point. Terus-terang, bagian awal opening berasa terbata-bata penuturannya, nggak terlalu mengalir. Akan tetapi, setelah masuk scene-scene perkenalan Dara dan anak-anaknya, permainan kekuatan filmnya baru dimulai, pace-nya jauh lebih ok dari bagian awal. Appertizer, main course dan desert disajikan tidak cuma cantik tapi kita juga dibuat terkejut atas rasa yang ditawarkan, kadar gore yang akan sulit ditemukan di film lokal yang sudah lolos dr guntingan LSF.

Trio Danish-Imelda-Arifin tampil cemerlang, so into their characters, karakterisasinya dapet, feelnya kena. Makin ke belakang, intensenya akting mereka (termasuk Julie Estelle, protagonis Ladya) naik terus-menerus. I was cheering and clapping for some ‘payback’ scenes . Danish diawal-awal kehadirannya mungkin terlalu komikal buat gw, tapi makin ke belakang, transisi emosi dia sampai ke layer yang cukup mengerikan. Overall, I have so much fun with Macabre…definately, a must see movie….8.5/10

2 Comments

Filed under Movie Review

Sherlock Holmes – This is Ritchie’s

Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) dan sidekicknya, Dr. Watson (Jude Law) terlibat dalam perseteruan dengan the black-magic guy, Lord Blackwood. Sherlock Holmes, karakter detektif imajinasi Sir Arthur Conan Doyle di akhir abad 19, di tangan Guy Ritchie menjelma menjadi Sherlock Holmes yang lebih hardcore dan sarkastik. Style Guy Ritchie menempatkan Sherlock Holmes menjadi sebuah film yang lebih acceptable oleh penonton masa kini.

Set dan scoring adalah dua hal yang sangat menonjol di film ini, the Hans Zimmer’s score was wonderful. Treatment Ritchie pada saat menjelaskan Holmes’ mindset adalah hal yang sangat fresh untuk dikonsumsi oleh penonton. Though it was good but I felt that it was a little bit too long. Di awal dan pertengahan, it did drag a bit though, kerasa kalau pacing dan flownya tidak terlalu rapi.

Karakterisasi keseluruhan, terutama Holmes dan Watson, kerasa lebih light. Gaya detektif Holmes lebih masuk ketika dia mulai menjelaskan isi kepalanya. SH adalah ibarat show tunggal Robert Downey Jr. meskipun Jude Law dan Rachel McAdams tidaklah tampil memalukan. Gw kasih kredit untuk chemistry antara Watson dan Holmes karena chemistry keduanya adalah highlight yang penting di film ini. Khusus untuk Adams, she is gorgeous, tapi gw ngerasa bagian Irene Adler dipresentasikan dengan buruk, bukan disebabkan oleh kegagalan Adams dalam berakting tapi lebih kepada pengolahan script untuk karakter Adler yang tidak tajam.  

Overall, this movie was entertaining but nothing more or less…bukan tipe Sherlock Holmes yang sudah kita kenal…..7.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review

Avatar : Sky is the Limit for Mr. Cameron

Avatar adalah kisah Jake Sully, seorang marinir lumpuh, dalam sebuah misi infiltrasi Na’ vi, koloni yang di hidup di planet Pandora. Saat Jake belajar untuk memahami menjadi seorang Na’vi, perasaannya akan menempatkan dia dan orang-orang sekelilingnya dalam keadaan bahaya.

About the movie…where to begin? Well…Avatar is a ‘must see’ movie yg nge-set benchmark teknologi yang digunakan oleh sebuah film ke standar yang lebih tinggi lagi. Mungkin untuk sebagian orang, 30-40 menit awal membutuhkan sedikit kesabaran…tapi setelah itu, well…sky is the limit for James Cameron. His attention to detail is incredible! Durasi yang lumayan panjang hampir tidak menjadi masalah karena pacenya dipertahankan konsisten dan excitement-nya berasa terus sampai klimaks, sampai akhir.

Secara visual, gw bisa bilang mungkin ini film dgn CGI paling bersih…production value and visual effects were groundbreaking…istilah gw ‘KERASA MAHALNYA’! Editingnya juga cakep banget, peralihan scene-scenenya mulus. Action sequences? Jangan ditanya…JUARA KELAS!! Performance of casts are good, and I love watching Sigourney Weaver…dia tampil menyakinkan dan ngeblend sm karakternya.

Apa film ini begitu sempurna? Hmm…mungkin kritikus wannabe bakal komplain soal plot…to be honest, it’s lack of original story. Secara basic, Avatar mungkin punya konsep yg generik…let’s say, it’s kinda Pocahontas…or a little bit Dances with Wolves…or I felt the Last Samurai…but I was not bothered at all…percaya sama gw, it won’t ruin your mind blowing experience!

Overall, apakah Avatar adalah revolusi dibidang cinema? Ummm…no…but still, Avatar is such a movie experience to be remembered…..9.5/10

Leave a comment

Filed under Movie Review